![]() | Hi guest |
Bali Fashion Week VII - Fashion Meets Art, sudah selesai. Namun semua pengalaman dan makna yang saya dapatkan dari event ini, masih amat sangat membekas.
Terlepas dari sukses atau tidaknya acara ini, bagi saya pribadi, ada begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang tidak akan tergantikan.
Saya melihat tim panitia yang memiliki energi positif yang melimpah dan bekerja dengan penuh komitmen, padahal sebagian besar dari tim panitia tersebut tidaklah dibayar alias volunteer, tapi semangat kerja dan desikasinya melebihi tim panitia event sejenis yang notabene dibayar mahal. Mengapa bisa seperti itu? Padahal apabila kita lihat, secara keseluruhan dari event ini yang akan banyak disebut adalah Ibu Ika seorang. Sisanya hanya akan disebut sebagai tim panitia saja. Jadi mereka tidak dibayar, dan tidak mendapat ketenaran. Lagipula saya yakin tim panitia itu tidak lagi butuh ketenaran, karena bahkan hingga ke para penerima tamunya pun, adalah orang - orang yang cukup besar dan cukup dikenal di bidangnya masing - masing. Lalu apa yang menggerakkan mereka hingga dapat berkerja dengan penuh semangat dan positif itu?
Memiliki booth di dalam, juga membuat saya memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya berada di antara orang - orang dengan kreatifitas tinggi. Terus terang, saya jadi merasa sebagai orang yang paling tidak kreatif sedunia. Saya melihat mereka yang mengolah material asli dalam negeri dan menggunakan motif dalam negeri untuk mengusung keunikan produknya. Saya juga melihat karya desainer yang mengusung batik sebagai pertanggung jawabannya sebagai seorang desainer terhadap dunia fashion Indonesia. Saya melihat banyak ide - ide kreatif di sana dan sangat terinspirasi olehnya. Saya bahkan sempat memutari hampir keseluruhan booth, dan meskipun ada beberapa booth yang kurang menarik, namun hampir keseluruhannya memiliki desain yang unik.
Banyak desain yang tidak biasa, namun ternyata begitu disukai oleh para buyer luar. Ada produk - produk yang ditata sedemikian rupa, namun ternyata tidak menarik pengunjung sama sekali. Saya jadi memahami bahwa ada begitu banyak elemen yang berperan dalam kesuksesan suatu booth dan suatu usaha untuk dapat bersakala internasional di pameran - pameran seperti ini.
Saya belajar tentang bagaimana display yang bagus untuk sebuah booth dari seorang bapak - bapak dari Malaysia yang secara kebetulan saja datang menghampiri booth kami. Kami dipertanyakan tentang apa itu lifestyle, oleh seorang wartawan Jepang bernama Ms. Tomoko. Kami juga diwawancara oleh Metro TV karena booth kami dianggap sangat menarik, dan kami juga sempat difoto oleh rekan pers bersama ibu Dewi Motik, Ibu Ika, dan pejabat lainnya yang bertanya - tanya dan tertarik dengan produk After Midnite Bag milik kami. Saya juga belajar tentang market mana yang paling cocok untuk produk kami, dari seorang ibu yang sudah berpengalaman mengekspor produk dalam negeri, yang kebetulan mampir ke booth kami. Dan saya memperlajari apa yang membedakan pelayanan di booth yg satu dengan yang lainnya. Ternyata begitu menarik, karena semua yg hadir di booth2 tersebut sebagian besar adalah pemiliknya langsung, sehingga saya bisa langsung belajar bagaimana filosofi dan nilai - nilai yg mereka pegang membentuk sikap dan attitude mereka.
Saya tidak hanya belajar dari apa yg tersurat, tapi juga dari apa yang tersirat. Ada kalanya hal - hal yang tidak diinginkan terjadi, dan ada banyak gangguan yang akan terjadi tanpa bisa dihindari. Dan meskipun kita tahu gangguan itu ada, namun terkadang kita tidak bisa mengatakannya. Saat - saat seperti itu, biasanya emosi saya akan terpengaruh, dan karenanya kerja tim akan juga terpengaruh.
Tapi hari itu saya memutuskan untuk mencoba hal yang berbeda. Saya memutuskan, semakin saya terganggu (distracted), maka saya akan semakin ramah kepada orang lain. Semakin saya merasa bete, maka saya akan semakin baik dan tersenyum kepada orang lain. Dan hasilnya? Luar biasa. Saya tidak pernah tahu bahwa hanya dengan satu senyuman dan satu sapaan kecil, saya bisa berbincang - bincang dengan orang lain selama 30 menit. Hanya dengan senyuman dan sapaan, saya jadi mengenal banyak orang, dibantu banyak orang, dan yang pasti saya merasa jauh lebih relaks dan lebih bersemangat.
Tanpa sadar, energi positif tahu - tahu saja sudah begitu melimpah ruah dari dalam diri saya. Saya jadi menyapa dan tersenyum pada semua orang, dan efek positif itu terus berkelanjutan menghasilkan reaksi yg lebih baik lagi. Tiba - tiba saja saya sudah punya banyak teman baru, sudah berbicara dengan begitu banyak potential buyer, sudah berbicara dengan banyak orang yang saya pikir tadinya tidak akan pernah saya ajak bicara. Tidak terbayang rasanya, tanpa satu senyuman dan satu sapaan kecil itu, berapa banyak pengalaman yang akan saya lewatkan begitu saja. Saya jadi belajar bahwa semua orang punya sesuatu untuk dibagi dan dipelajari. Semua orang punya sesuatu yang senang mereka ceritakan. Dan semua orang akan bereaksi sebagaimana reaksi kita terhadap mereka.
Saya jadi benar - benar belajar dan memahami, bahwa apa yang dibutuhkan dalam sebuah bisnis, hubungan, atau bahkan dalam hidup, bukanlah semata keramahan, melainkan ketulusan. Ketulusan dalam berkarya, ketulusan dalam memproses, ketulusan dalam menjual dan melayani kebutuhan para pembeli, hingga ketulusan untuk berbagi dan bersama - sama bergandeng tangan membentuk sebuah kekuatan yang positif. Ketulusanlah kuncinya.
Saya juga belajar tentang ketulusan saat saya meliput sebagai wakil dari Fasity.Com. Saat sedang duduk di tangga batu, Ibu Ika datang dan menghampiri satu - persatu media yang ada, memberikan salam dan menyapa satu - persatu secara personal. Terus terang saya tidak menyangka kalau Ibu Ika akan turun sendiri ke lapangan menyapa para wartawan. Tapi itu dilakukannya, dan yg lebih hebat lagi, ia mengingat hampir sebagian besar wartawan tersebut dan bisa berbicara sedikit mengenai diri mereka masing2. Ia mengingat semua hal detail mengenai diri setiap orang, termasuk semua pemilik booth dan lainnya. Bagi saya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Ia menunjukkan apreasiasi yang sangat tinggi pada orang lain, dan apresiasi itu hanya bisa datang dari sebuah ketulusan dalam menjalankan profesi dan tanggung jawab yang disandangnya saat itu.
Ketulusan lainnya saya temukan dari diri Ms. Tomoko Oka, seorang wartawan Jepang yang image dirinya sangat melekat di diri saya. Beliau adalah seorang wartawan dengan salah satu kaki yang cacat. Tapi bukan itu yg membuat ingatan tentangnya melekat di kepala saya, melainkan karena ia menanyakan pertanyaan - pertanyaan yang sangat membuat saya berpikir ulang tentang semua yg saya jalani. Saya menemukan ketulusan dan keterbukaan dalam semua sikap dan tutur katanya. Saya menemukan kekuatan dalam dirinya yang menjadikan ia begitu mandiri dan menikmati hidupnya. Ketulusan untuk menjalankan hidup dengan apa adanya.
Begitu juga dengan perkenalan saya bersama Pak Armand. Semua bermula dari sebuah ketulusan untuk menyapa, tersenyum, dan berbagi. Amat sangat menyenangkan.
Tiba2 saya jadi teringat sebuah quote yg sudah lama....
"Berikan ketulusan, bukan kesempurnaan"
Masih ada banyak hal lainnya yang saya dapat dari Bali Fashion Week VII ini. Mulai dari hal - hal teknis tentang bagaimana proses produksi dan konsep hingga idealisme yang ada, sampai kepada hal - hal yang menyangkut pembangunan karakter dan pola pikir. Tapi ketulusan ini yang paling berkesan bagi saya dan saya pikir ini adalah yang terpenting.
Bali Fashion Week VII bagi saya, bukan saja sekedar sebuah ajang fashion internasional, tapi juga merupakan sebuah pengalaman berharga yang sangat berkesan dan akan melengkapi perjalanan karir dan hidup saya. Sebuah event yang sangat patut untuk dibanggakan, diperjuangkan dan didukung pelaksanaannya.