![]() | Hi guest |
Semua orang berbicara tentang budaya dan semua orang berteriak tentang budaya, semua setuju budaya berharga, tapi sedikit yg betul2 menghargainya dengan tindakan nyata.
Mengapa? Mungkinkah karena kurangnya pemahaman yang sesungguhnya akan apakah budaya itu?
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berada di ujung pencarian akan arti eksistensi diri. Sebuah pertanyaan sederhana ditanyakan oleh seorang sahabat, yaitu sejauh mana fashion yang ada di tangan saya bisa berdampak bagi bangsa ini? Sebuah pertanyaan sederhana yang tidak bisa saya jawab dan membuat saya bertanya - tanya pada diri sendiri, apa arti semua yang saya lakukan ini. Apa yang bisa saya perbuat dengan fashion yang ada di tangan ini?
Apabila keberadaan seorang dokter mampu menyelamatkan hidup manusia, dan keberadaan seorang tentara mampu membela hak dan memperjuangkan nasib bangsanya, apa arti keberadaan seorang fashion designer? Kalau boleh dikatakan dengan jujur, fashion saat ini adalah satu bidang yang tidak berhubungan langsung dengan hidup manusia. Fashion yang sekarang ini sudah berubah fungsinya dari sebuah pelindung nyawa menjadi sebuah status sosial.
Secara kasat mata, dalam dunia fashion yang terlihat hanya sesuatu yang glamor dan kreativitas massal. Tidak berarti glamor itu buruk, atau kreativitas itu tidak penting, melainkan hanya sekedar menggambarkan bahwa dunia fashion sekarang ini, antara penting dan tidak penting keberadaannya. Paling tidak, itu menurut saya.
Saya merasa fashion yang ada di tangan saya tidak terlalu berdampak besar bagi kehidupan manusia. Jangankan manusia, untuk sekedar sesama dan orang - orang di sekitar saya saja mungkin tidak terlalu berpengaruh. Saya sadar, fashion juga memberikan lapangan pekerjaan, memberikan peningkatan ekonomi dan banyak kesempatan hidup yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Tapi apakah itu saja? Di bidang lain pun semua hal itu bisa di dapatkan. Lalu apa pentingnya fashion ini?
Pertanyaan - pertanyaan dan pemikiran itu terus menggangu saya. Sampai suatu hari secara tidak sengaja saya melihat sebuah pameran arkeologi di Mangga Dua Mall, Jakarta. Pameran arkeologi itu mempertunjukkan sebuah relief di candi Borobudur, yang tidak akan pernah bisa kita lihat lagi. Mengapa? Karena candi Borobudur telah begitu rapuh akibat kurangnya perawatan dan perhatian akan keadaan fisiknya, sehingga diperlukan penopang tambahan di bagian bawah candi - candi tersebut. Penopang itu berupa lapisan dinding semen tambahan yang akan mengitari candi - candi, tempat di mana relief - relief batu itu berada. Ya, relief - relief itu tertutup oleh dinding semen tambahan itu.
Saya belum pernah ke candi Borobudur, dan saya tidak terlalu mengenal tentang candi tersebut. Tapi melihat gambar - gambar relief yang ada, dan mengetahui bahwa itu tertutup dinding semen tambahan dan tidak akan bisa dilihat lagi, cukup untuk membuat tenggorokan saya terasa tercekat. Apabila sebagian dari anda sempat datang dan melihat relief - relief itu, saya yakin anda akan merasakan hal yang sama.
Relief - relief itu dibuat dengan amat teliti. Semua ukirannya amat detail dan sempurna. Menggambarkan kehidupan dan kepercayaan yang dianut jaman itu. Tentang kode etik kehidupan di mana apa yang baik dan apa yang buruk belum dikaburkan oleh kepentingan pribadi.
Bisa anda bayangkan, saat patung batu sederhana saja begitu sulit dibuat, ini relief dari batu dengan detail yang sempurna yang diukir dengan tangan manusia - manusia yang hidup jauh sebelum kita hidup. Berapa sulitnya dan berapa bernilainya itu semua? Dan yang memprihatinkan bukanlah tentang hilangnya relief itu karena dilapisi dinding tambahan, melainkan karena semua itu terjadi di jaman kita. Di mana segalanya sudah begitu maju, tapi melindungi hal seperti itupun tidak mampu. Mungkin bukan tidak mampu, tapi tidak perduli?
Pameran itu bukan hanya menunjukkan tentang relief itu saja, melainkan memberikan gambaran sejarah secara cukup lengkap mengenai penyebaran agama budha, nilai - nilai yang dianutnya, hingga arti kebudayaan dan pembuatan candi borobudur serta candi lainnya. Dibuat seperti lorong waktu, kita dapat memasuki dari bagian kanan, memutari pamflet2 besar dan hasil karya jaman itu beserta artifak yang ada, hingga keluar di lorong sebelah kiri.
Saya tidak beragama budha, dan saya tidak terlalu memperdulikan mengenai agama budha nya. Di sana juga tidak ditekankan mengenai ajaran agamanya, melainkan tentang nurani dan akhlak baik untuk mencapai kesempurnaan hidup yang berasal dari etika dan prinsip yang dianut. Namun ada banyak hal yang menyita perhatian saya sepanjang lorong itu.
Biji - biji perhiasan yang dikenakan jaman itu, hasil karya tembikar yang digunakan, potongan - potongan emas dan metal yang digunakan, serta gambar - gambar pakaian yang ada saat itu, semuanya dipamerkan di dalam kotak di tengah - tengah lorong. Saya mengamati satu persatu sambil terus berjalan menyusuri lorong, hingga berhenti lama tepat di tikungan lorong dan hampir menangis di ujung sana.
Ada deretan pamflet besar bertuliskan banyak hal tentang kehidupan manusia. Dan ada satu pamflet yang intinya mempertanyakan, tanpa budaya, adakah manusia? Semua tembikar, pakaian, perhiasan, dan alat - alat pertukangan yang ada, adalah sisa - sisa dari budaya manusia yang hidup di jaman itu. Dan dari budaya merekalah dapat terlihat sejauh mana peradaban mereka saat itu. Tanpa budaya, adakah peradaban manusia?
Mungkin saya terlalu sentimentil dan berlebihan, tapi saat itu saya merasa betul - betul lega. Apa yang saya kerjakan dan apa yang ada di tangan saya bisa berarti banyak apabila saya menginginkannya. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini, melainkan tentang pertanyaan tadi, yaitu tanpa budaya, adakah peradaban manusia?
Budaya bukan tentang siapa yang duluan memiliki dan siapa yang mematenkan. Bukan juga tentang kebanggaan karena dikenal dan ditiru oleh bangsa lain ataupun karena berhasil kita claim kepemilikannya. Budaya juga bukanlah hanya tentang komoditas ekspor, kemudahan perjanjian diplomasi, ataupun pendatang devisa. Ketertarikan manusia akan segala hal yang berbeda adalah sesuatu yang alami, dan karenanya ketertarikan manusia akan budaya yang berbeda adalah sesuatu yang juga alami.
Namun budaya tetaplah budaya, sebuah peradaban manusia. Budaya adalah bukti bahwa kita ada. Mengapa kita bisa disebut bangsa Indonesia? Apa yang membedakan negara Jepang dengan negara Inggris? Apa yang membedakan Bali dengan Jawa?
Budaya-nya.
Bayangkan apabila kita mengatakan bahwa karena serumpun maka budayanya wajar menjadi sama (Ingat, mirip atau serupa BERBEDA ARTINYA dengan sama.), atau mengatakan tidak masalah apabila bagian dari budaya kita di claim menjadi milik pihak lain?
Ah tidak, cukup bayangkan saja apabila budaya dari berbagai suku di Indonesia ini dileburkan menjadi satu? Masih adakah peradaban Bali, Jawa, Madura, dan lainnya? Dan kalau merujuk pada pertanyaan sebelumnya, saat semua budaya yang menjadi jati diri dan bukti peradaban kita hilang atau dipersamakan oleh bangsa lainnya, masih akan adakah yang namanya bangsa Indonesia?
Mempertahankan warisan budaya, bukan tentang harga diri dan keangkuhan ataupun bukti kehebatan dan kemampuan suatu bangsa, melainkan KEHARUSAN dan KEWAJIBAN dari SEMUA bangsa. Masing - masing bangsa harus mempertahankan warisan budaya masing - masing dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Bukan karena hanya budaya itulah yang menjadi milik masing - masing bangsa, melainkan karena merebut ataupun mempersamakan budaya, hanya akan menghilangkan eksistensi bangsa itu sendiri.
Budaya bukanlah warisan leluhur yang harus kita jaga dan pertahankan.
Budaya adalah identitas kehidupan manusia dalam suatu bangsa.
Sama berartinya dengan orang tua kandung dan riwayat kehidupan kita.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Di ujung lorong keluar, saya mendengar salah seorang penjaganya sedang berbicara dengan beberapa tamu yang mendengarkan penjelasannya.
"Hampir semua manusia pasti mencari arti eksistensi hidupnya, sebagaimana yang Sidharta Gautama lakukan. Kalau eksistensi diri sendiri saja begitu besar artinya, apalagi eksistensi sebuah peradaban?"
Pertanyaan yang bagus.
Kini candi Borobudur bahkan sudah tidal lagi termasuk salah satu keajaiban dunia dan hampir dianggap sebagai susunan batu - batu biasa tanpa sejarah, menurut salah seorang penjaga di sana. Sebelum menyalahkan dan menghujat pihak luar yang menggunakan sarana voting untuk beberapa keajaiban dunia tersebut, mungkin perlu ditanyakan dulu kepada diri masing2, apa yang sudah bangsa ini lakukan untuk keajaiban dunia yang ada di negara ini tersebut, selain hanya berbangga hati bahwa itu sudah mendunia?
Menurut video yang ditayangkan di sana, saat ini hanya ada segelintir ahli yang mampu merawat dan melakukan pemeliharaan di candi tersebut secara terbatas. Apabila ada satu saja batu yang retak dan ada perembesan air, dapat memakan waktu sampai berbulan - bulan untuk memperbaiki dan menyusunnya kembali.

------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah tulisan yang sudah pernah saya tulis dan saya publikasikan di blog pribadi saya pada 8 October 2007, namun saya pikir mungkin bisa berguna untuk dibagi dengan teman - teman di sini. Saya yakin ada banyak teman - teman yang juga mengalami dilema yang sama, terutama yang sama - sama bergerak di bidang fashion maupun industry fashion, baik secara mass maupun indie.
Cukup hangatnya pembahasan mengenai eco fashion dan segala aplikasinya dalam industry fashion di Fasity ini sejak beberapa hari yang lalu, membuat saya terpikir juga untuk sekalian memperdalam sebuah to-do-list yang sama pentingnya, namun hampir kita lupakan.
Kita semua menyadari akan pentingnya budaya dan kita mengemban tanggung jawab yang sama besarnya dengan mereka yang bekerja di bidang lain, untuk melestarikan budaya kita sendiri. Mudah untuk dikatakan, tetapi sulit untuk dilakukan. Bahkan seorang wartawan Jepang yang saya temui di Bali Fashion Week pun mengatakan hal yang sama saat saya dan Fe mengatakan bahwa kami berkomitmen untuk mengusahakan membuat koleksi dari budaya Indonesia.
Sulit memang. Terlebih lagi dengan keadaan pasar Indonesia yang masih men-sah kan dan menerima dengan lapang hati dan dada (kalau tidak dapat dikatakan menyambut) segala jenis fashion yang berasal dari mana saja yang penting luar Indonesia. Dilema semakin bertambah saat Indonesia sendiri tidak memiliki karakteristik fashion tertentu yang kuat dan berciri khas. Semakin bertambah lagi dengan besarnya permintaan di luar ketimbang di dalam negeri sendiri, sehingga komersialisasi budaya menjadi komoditas yang tereksploitasi dengan semena - mena hingga hampir tidak menyisakan celah untuk sebuah hak cipta ataupun hak intelektual suatu bangsa.
Bagaimana kita menyikapinya?
Sama seperti efek rumah kaca. Sama seperti efek green dan eco fashion. Dengan menggelindingkan bola kesadaran terhadap semua pihak yang berkepentingan dan bersama - sama mencapai sebuah titik di mana kreatifitas dan komersialitas, dapat bergabung dengan fungsionalitas, identitas diri, dan tentunya keberlangsungan hidup manusia, secara nyata dan bukan hanya dalam bentuk idealisme.
Banyak pihak mengatakan, konsumen Indonesia kini sudah semakin pintar, semakin menghargai hasil karya anak bangsa. Pertanyaannya adalah konsumen yang mana? Dan anak bangsa yang mana? Tidak ada gunanya kalau hasil karya tersebut hanya dinikmati sebagian kecil konsumen dan menguntungkan sebagian kecil anak bangsa. Toh, kepandaian konsumen Indonesia sekarang ini juga tidak terlepas dari peran serta semua pihak yang tanpa lelah berusaha menggelindingkan bola kesadaran tersebut.
Karenanya kita sebagai pelaku industri, justru harus lebih giat menggelindingkan bola kesadaran tersebut, sambil terus memperbaiki diri, melakukan penelitian, dan terus meningkatkan kreatifitas.
Melestarikan budaya bukan hanya batik dan angklung, bukan hanya candi borobudur dan ukiran Jepara, pun bukan hanya membeli produk dalam negeri, apalagi memboikot produk luar negeri.
Mungkin benar kata pepatah, "Belajarlah hingga ke negeri China."
Sudah saatnya kita aplikasikan pepatah tersebut. :) Bersama, segalanya lebih mudah. Bagaimana menurut anda?
Comments
Pemikiran yang menarik, Vil.
Pemikiran yang menarik, Vil. Membuat saya jadi mengira - ngira, kamu sebetulnya orang fashion atau bukan sih? Soalnya setahu saya, orang fashion biasanya tidak tertarik dengan hal - hal begini ataupun tentang idealisme yang nyata. Kebanyakan orang fashion seperti hidup di dunia sendiri dengan idealisme impian, yang karenanya seringkali membuat orang fashion (maaf ya) dicap berotak kosong.
Kamu sama sekali tidak terlihat berotak kosong. Kalau semua pelaku industri fashion di Indonesia berpikiran seperti kamu, 15 tahun lagi kita bisa saingan sama China ya.
Terima kasih untuk
Terima kasih untuk complimentnya, Enrico.
Sejujurnya, saya benci mengkotak - kotakkan diri. :) Saya adalah seorang marketer yang kebetulan bergerak di bidang e-commerce dan fashion yang saya sukai. Jadi kalau dikatakan saya orang fashion, silahkan saja. Dikatakan orang marketing, silahkan saja. Dikatakan idealis, juga silahkan saja. :) Saya belum menemukan predikat yang cocok untuk saya sekarang ini, simply karena saya masih suka berpindah - pindah dan belajar hal baru.
Bersaing dengan China, sepertinya masih butuh waktu yang lebih lama. China berubah menjadi seperti sekarang juga bukan dalam waktu yang sebentar dan bukan dengan perencanaan dan pengorbanan yang sedikit. Seperti dikatakan pepatah, kita memetik apa yang kita tanam. Itu yang dilakukan China sekarang dan itu juga yg terjadi pada kita sekarang.
Dan berbicara tentang bersaing dengan China, sebetulnya saya tidak menyukai kalimat tersebut. Bersaing dengan China sama artinya dengan menjadikan pihak lain sebagai lawan. Menentukan pihak lain sebagai lawan atau pesaing tidak akan mengubah banyak hal. Persaingan yang sebetulnya justru ada di dalam tubuh bangsa kita sendiri, dengan diri kita sendiri.
Bersaing dengan China, sama seperti Amerika yang dulu berusaha bersaing secara teknologi dengan Jepang. Yang difokuskan hanya Jepang. Padahal buktinya muncul China yang tidak diduga - duga. :) Sementara China, tidak bersaing dengan negara manapun, melainkan berlari dengan country planning jangka panjang yang sudah dicanangkan sejak masa komunis aliran keras masih memegang kendali penuh.
Jadi, daripada pusing dengan persaingan terhadap pihak lain, lebih baik fokuskan persaingan dengan diri sendiri untuk terus melampaui dan menjadi yang terbaik. Itu menurut saya.
Ups, maaf jadi malah membahas tentang politik, sejarah, dan opini di sini. Anyway, banyak kok pelaku industri fashion di Indonesia yang sudah terpikir tentang hal ini. Tetapi ya itu dia, musuhnya ada pada diri sendiri, yaitu dilema akan selera pasar, profit margin, dan idealisme yang diusung.
Simplight.NET - Your Fashion Destination
After Midnite Bag - Your Lifestyle Bag
A Human Wannabe - My MP Account
Yah, Vilia terbang deh
Yah, Vilia terbang deh dipuji begitu. LOL. Anyway, setuju sama enciro sih Vil. U r smart.
Dan setuju dengan elo, pertanyaan pentingnya adalah apakah Indonesia bahkan memiliki country planning, kalau crisis management planning nya saja belum jelas, padahal termasuk negara yang memiliki banyak potensi bencana.
Di sini kami diajarkan cara mengevakuasikan diri, ada latihan menghadapi kebakaran dan gempa. Proses pengendalian krisis bencana yang terjadi juga memiliki departemen khusus yang menanganinya. Apakah di Indonesia ada?
Gue rasa masalah utamanya bukan di dana ataupun di pengetahuan yang sering digembar - gemborkan international news, masalahnya ada di tingkat keperdulian dan kepentingan hal tersebut bagi masyarakatnya. Kalau itu penting untuk mereka, maka secara mandiri pun akan mati - matian diusahakan.
-Brain is not accessory.-
Huhu enak aja! :P Begitu
Huhu enak aja! :P Begitu doank mag ga terbang... secara dah biasa dibilang smart hauhauhauha... *norak mode on*
Anyway, yah Indonesia masih harus belajar banyak dari Jepang, Mit. Skrg Indonesia masih baby step. Entah kapan bisa benar - benar berjalan sendiri. Yang bisa kita lakukan skrg hanya mendukung dan melakukan hal - hal kecil untuk mewujudkan gambaran besarnya.
Simplight.NET - Your Fashion Destination
After Midnite Bag - Your Lifestyle Bag
A Human Wannabe - My MP Account
seneng banget baca tulisan
seneng banget baca tulisan vilia yg satu ini:)...
"Mempertahankan warisan budaya, bukan tentang harga diri dan keangkuhan ataupun bukti kehebatan dan kemampuan suatu bangsa, melainkan KEHARUSAN dan KEWAJIBAN dari SEMUA bangsa."---> kalau kita mau, kita bisa mempertahankannya, gak harus dari hal2 yg bisar, kita bisa mulai dari hal yg kecil yg kita sukai..
tulisan villia di atas, menurut kaca mata gwe sudah merupakan salah satu langkah untuk mempertahankan budaya:)...
GBU vil:)
Nadiya Mustafa
http://www.nadiyamustafabaabad.multiply.com
Thank you, Nad. Moga2
Thank you, Nad. Moga2 tulisan ini berguna dan berdampak positif untuk yg membaca.
Budaya memang hal yang sangat penting. Dari sana kita belajar memahami jati diri juga.
Simplight.NET - Your Fashion Destination
After Midnite Bag - Your Lifestyle Bag
A Human Wannabe - My MP Account