![]() | Hi guest |
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat dihubungi dan diwawancara oleh koran Kompas. Salah seorang yang menghubungi saya adalah Mba Ninuk Pambudi, seorang wartawati senior di Kompas. Setelah berbicara dengannya beberapa kali, beliau bersedia untuk diwawancara mengenai pekerjaannya. :) Berikut hasil wawancaranya, semoga menjadi inspirasi bagi kita semua :).
Apa dan bagaimana fashion itu di mata anda sebagai seorang jurnalis?
Fashion itu gaya hidup, artinya setiap orang memiliki fashion dan bisa fashionable. Yang penting dia punya kepribadian dan berani mengekspresikan kepribadiannya itu melalui fashion.
Fashon juga industri, juga identitas, juga penanda, simbol. Jadi, menarik sekali mengamati fashion karena seperti melihat perjalanan sejarah dan meliaht masyarakat.
Fashion dengan kesetaraan dan pemberdayaan wanita, adakah hubungannya? Dan bagaimana dengan fashion yang dianggap glamour dan serba branded?
Sebagian orang mengkrkitik fashion karena seolah menjadikan perempuan korbannya, tetapi saya melihatnya berbeda, terutama saat ini ketika ekspresi individu semakin mendapat tempat sebagai ekspresi demokrasi.
Fashion adalah ekspresi individu dan karenanya dengan fashion kita akan berani menyatakan siapa diri kita, tidak perlu ikut2an, tidak perlu diatur orang lain. Contoh yang bagus adalah Madonna. Dia memakai barang fashion, dia beli semua yang dia mau dan produk bermerk terbaru, tapi dia enggak jadi korbannya karena dia tahu apa yang dia mau. Jadi, lewat fashion perempuan bisa menunjukkan jati dirinya, kemandiriannya. Intinya, be yourself.
Dapatkah anda menggambarkan pekerjaan anda secara singkat dan seperti apa kira - kira jadwal keseharian anda?
Sebetulnya posisi saya secara struktural adalah Wakil Editor Desk NonBerita yang tanggung jawabnya antara lain Kompas Minggu, seksi lifestyle-nya. Saya juga menulis mengenai isu-isu jender. Fashion dan industri kreatif memang salah satu tulisan utama saya, meskipun juga isu2 jender dan perempuan dan tentu saja gaya hidup secara umum.
Pekerjaan wartawan adalah pekerjaan yang menantang, menyenangkan, melelahkan tetapi hasilnya sepadan ketika tulisan kita berguna untuk banyak orang. Karena saya wakil editor Desk Non-Berita yang tanggung jawab desknya adalah Kompas Minggu, maka Senin sampai Kamis relatif bisa lebih longgar jadwal kerjanya. Tapi kalau sudah datang Jumat dan Sabtu, nah itu disaster. Tiap malam Minggu saya ngapelin kantor, kadang sampai jam 11 malam :).
Apa komitmen anda dalam pekerjaan?
Komitmen pada pekerjaan? Kalau ini buat saya bekerja harus dengan hati dan nalar. Dengan hati karena pekerjaan menulis sebagai wartawan membutuhkan empati dan passion kepada pembaca, pada nara sumber, pada persoalan, pada tema yang kita bahas. Ada tujuan yang ingin kita capai dan buat saya artinya yang berguna sebanyak2nya buat masyarakat luas, encouraging, kasih semangat, berbagi informasi dan inspirasi.
Hal - hal yg menarik dan menyebalkan saat menjalankan pekerjaan anda?
Yang menarik dan membuat bertahan di pekerjaan ini adalah setiap kali bertemu dengan orang dan masalah baru, jam kerjanya fleksibel, bukan 9 to 5. Suasana kerja juga sangat mendukung dengan teman-teman yang supportive.
Yang menyebalkan kalau jadwal yang kita rencanakan ternyata berantakan tidak sesuai rencana, entah karena nara sumber ternyata tidak bisa diwawancara karena di luar kota dsb.
Kira2 skill apa saja yg dibutuhkan untuk menjalani profesi anda sekarang ini?
Pastinya pertama-tama keterampilan sebagai wartawan. Artinya kemampuan mengenali fakta, menyajikannya menurut laporan jurnalistik. Setelah itu pengetahuan mengenai fashion dari segala aspeknya: industri, gaya hidup, sosiologis, ekonomi, kajian feminisme (karena fashion sangat berhubungan dengan feminisme dan postfeminisme), semiotika, psikologi, dan lain-lain.
Hehehe... enggak perlu kening berkerut karena yang diperlukan pengetahuan dasarnya. Dan pastinya harus ada passion dan rajin mengamati dari berbagai sumber, termasuk dari pengalaman panca indra kita.
Terakhir, apa pendapat anda mengenai situs komunitas fashion seperti Fasity.Com?
Sudah sering dibilang bahwa internet membuat media massa (terutama media cetak spt koran dan majalah) dapat saingan sangat berat karena tidak bisa interaktif spt situs seperti fasity.com.
Nah, situs fasity.com itu lebih interaktif, lebih bisa membangun komunitas, lebih bisa menampung aspirasi pengunjung/anggota ("pembaca"). Buat saya situs sperti ini jadi bagus untuk mendemokratisasi fashion, jadi media sharing, media informasi yang berasal dari para anggota dan pengunjung.
--------------------------
Terima kasih kepada Mba Ninuk Pambudi untuk kesediaannya berbagi di Fasity.Com. :)