Tren Kain Tradisional
Sudah melihat peragaan busana spring summer 2008 Diane Von Furstenberg? Kalau belum, coba Anda klik situs style.com dan temukan foto atau video peragaannya ini. Anda akan menyaksikan disainer gaek ini mengenakan sackdress bermotif grafis yang menurut pengakuan beliau terinspirasi dari motif batik lereng.
Tak mengherankan, Diane Von Furstenberg memang mewujudkan kenangannya akan keindahan eksotisme Bali dalam koleksi siap pakai berjudul Under The Volcano. Majalah Harper’s Bazaar Indonesia saja berkomentar, bahwa bangsa ini ‘kecolongan’ lagi dalam mengeksplorasi kekayaan tekstil Indonesia.
SEKILAS KEKAYAAN TEKSTIL TRADISIONAL INDONESIA
Indonesia memang berlimpah akan kekayaan budaya, termasuk aset mode seperti banyaknya macam baju adat. Apabila setiap suku di Indonesia memiliki ragam tekstil tersendiri seperti kain ulos bagi suku batak, kain prada bagi masyarakat bali, songket bagi masyarakat palembang , dan aneka macam batik dari jenis megamendung hingga pekalongan. Belum termasuk variasi asesorinya yang berkembang beratus-ratus tahun. Bayangkan saja betapa kayanya potensi mode bangsa ini.
Omong-omong tentang kesadaran akan kebanggaan terhadap budaya tanah air (khususnya di bidang mode), Indonesia sempat memiliki masa kejayaannya. Siapa yang tak ingat instruksi Presiden Sukarno kepada Ibu Sud untuk mempopulerkan kembali busana batik di tahun 50-an?
Dalam buku Serasi dan Gaya Berkain gubahan Ami Dianti Wirabudi (pimred majalah Eve) dan Tini Sardadi, disainer terkemuka Carmanita menceritakan betapa cantik dan elegannya para wanita di tahun 50-60an berdansa mengenakan kain dan kebaya berbahan ‘Paris’. Di buku yang diterbitkan Gramedia ini pula, ia menyebutkan daya tarik magis yang muncul dari pemakaian kain tradisional.
Tentunya Anda juga mengenal nama-nama besar di dunia mode Indonesia yang tak lelah mengusung tekstil tradisional dalam helai demi helai busana rancangannya. Ghea Sukarya (kini Ghea Panggabean), misalnya. Batik luriknya terlihat modis dalam cullote dan waistcoat di halaman majalah remaja di akhir 80-an. Ada pula Iwan Tirta dan Prajudi (alm.) yang setia ‘mengolah’ batik.
Selain para maestro tadi, disainer-disainer muda pun mencintai warisan kain Indonesia. Ada Obin (Josephine Werratie Komara) yang di tahun 2002 mempersembahkan koleksi ikat dan sulam dengan cara-cara pewarnaan kain yang hanya diajarkan turun temurun selama ratusan tahun. Anda juga tentunya masih ingat Oscar Lawalata yang menyajikan jumputan.
Syukurlah, Edward Hutabarat sukses mengakhiri 'keangkeran' kain tradisional ini. Di tahun 2006, ia melansir busana-busana batik ‘anak muda’ di bawah label Part One yang dengan lambat menjamur di kalangan sosialita Jakarta. Setelah diekspos berbagai media, tiruan(knock off)-nya pun beredar dimana-mana. Saat tren ini baru membahana di Indonesia pertengahan tahun 2008 ini, tanda tanya pun muncul.
Selama itukah waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk menerima kain tradisional kembali dalam kehidupan sehari-harinya?
BATIK IS NOW IN FASHION. THE NEXT TREND? MORE TRADITIONAL TEXTILES!
Dengan terbukanya mata (dan dompet) masyarakat akan busana tradisional, para disainer segera mengekplorasi referensi tekstil tradisional. Tenun bali, songket, dan sarung bugis, semuanya menjadi lebih modern melalui kelihaian disainer memainkan model, warna, dan styling.
Agustus 2007 silam, majalah Prodo memamerkan busana batik modern rancangan Barli Asmara dan Musa Widyaatmaja. Majalah a+ mendandani model prianya dengan kemeja print batik. Di penghujung tahun 2007, disainer Rebecca Ing menyentuh tenun pekalongan, sementara Ferry Sunarto memercikkan nuansa vintage melalui penggunaan kain tenun Bali.
Dalam acara Jakarta Fashion and Food Festival pertengangan Mei 2008 kemarin, sarung bugis mulai unjuk gigi di panggung mode. Sarung bugis yang bermotif kotak-kotak dan sekilas mengingatkan kita pada aktivitas bersembahyang umat muslim ini berubah menjadi one shoulder dan tube dress yang lebih berterima di ruangan pesta.
Disainernya, Andi Saleh, terinspirasi akan kesederhanaan motif sarung bugis yang tentunya tak akan sulit dipadu-padankan dengan dandanan urban. Dengan memberi tambahan motif hati, tameng hingga kelopak bunga dengan benang emas, ia mengkombinasikan sarung bugis dengan bahan sifon sutra. Sarung bugis juga ia jadikan detil pita atau lengan balon pada gaun-gaun yang didominasi warna marun, ungu, coklat bata dan emas.
“Seharusnya kita bangga akan semua kain tradisional yang dimiliki bangsa ini,” tutur Andi Saleh. Saat ia masih belajar di Belanda, ia menyaksikan betapa antusiasnya masyarakat asing bila disajikan produk budaya Indonesia termasuk kain tradisional. Karena itulah sarung bugis dipilih oleh disainer yang berpartisipasi dalam acara Islamic Fashion Festival bersama disainer lain seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Denny Wirawan, Syahreza Muslim, Adesagi dan masih banyak lagi (termasuk tujuh disainer dari Malaysia) bulan Juli lalu di Hotel Dharmawangsa Jakarta.
TIPS MENGENAKAN KAIN TRADISIONAL DENGAN MODERN
Kesan resmi dan kuno memang kerap melekat di benak orang banyak bila menyangkut kain tradisional. Padahal, membuat penampilan tetap modern dengan kain tradisional itu tak terlalu sulit. Panduannya sama saja; berprinsip pada memaksimalkan kecantikan dan bentuk tubuh yang disesuaikan dengan acara dimana busana itu dikenakan.
Hal yang penting untuk diingat adalah mengenali jenis kain dan kesan yang ingin ditampilkan. Contohnya, jenis kain tertentu seperti songket bertekstur tebal dan kaku. Kalau Anda ingin menampilkan kesan feminin yang lepas melambai, hindari penggunaan kain ini.
Kecuali Anda ingin menciptakan efek futuristik dengan menjadikan songket ini jaket kaku dengan bahu mencuat ala Balenciaga atau Yves Saint Laurent, maka hal itu bisa saja.Kalau ingin berbusana ringan melayang seperti sackdress Diane Von Furstenberg, pilih kain ringan seperti kombinasi sarung bugis dan sifon sutra rancangan Andi Saleh.
“Anda harus tahu efek yang didapat dari setiap kain,” saran Andi Saleh tentang tips mengenakan busana berkain tradisional ini. “Mau simple mewah atau mewah glamor, tinggal cocokkan saja dengan kain dan atasannya.” Andi Saleh menuturkan bagaimana menyeimbangkan bawahan batik dengan atasan blus sederhana atau kebaya encim untuk kesan simple.
Kalau Anda membutuhkan efek mewah, pilih kain yang lebih 'berat' seperti songket atau kain prada dari Bali yang bernuansa emas. “Yang penting, sesuaikan warnanya dengan kulit dan kepribadian Anda,” tambah Andi Saleh. Kalau Anda belum yakin dengan warna kain yang cocok, anda bisa bermain aman dengan memilih warna netral seperti hitam atau beige.
Untuk sehari-hari, cobalah lebih 'fun' dalam mengenakan kain tradisional ini. Untuk yang masih malu mengenakan kain tradisional, padankan kain tradisional dengan busana-busana dari label kontemporer. Jadikan kain lurik menjadi rok mini atau selutut, lalu padukan dengan tshirt hitam polos (Mango, misalnya). Dengan sepatu flat atau strappy sandal, kain lurik itu akan menjadi sangat casual. Atau kalau ingin bergaya bohemian, ubah saja kain batik megamendung menjadi rok semata kaki, tutup dengan tanktop putih dan kardigan hitam.
Tips untuk tampil aman dengan kain tradisional bisa dengan meniru cara Frida Gianini (disainer Gucci saat ini) dalam merancang koleksi musim panas 2008. Dengan dasar warna hitam dan putih, ia bermain dengan satu tambahan 'warna lain', solid atau lembut. Warna lain inilah yang bisa Anda terapkan pada pilihan kain tradisional sebagai centerpiece.
Dengan mengenakan kain tradisional, tampil cantik dan anggun itu sudah pasti didapat. Tak hanya itu saja, Anda akan merasakan sesuatu yang baru dalam berpenampilan. Anda mengusung suatu nilai budaya dan kebanggaan akan identitas nasional. Bayangkan, saat Anda bersosialisasi dengan teman-teman Anda yang berasal dari luar negeri, mereka akan penasaran dengan motif atau bahan busana yang anda kenakan. Bila mereka mengira-ngira rok yang Anda pakai itu produksi Cavalli, Anda bisa dengan bangga menjawab; “It's songket, one of my national heritage.”
Pic: Dok. Andi Saleh
- muhammadreza's blog
- Login or register to post comments
- 792 reads



Again, very well put, Za. Yap gue setuju banget, sudah waktunya mengangkat kebudayaan negeri sendiri ya. Memang ironis kalau kita terus - menerus kecolongan dalam menggali budaya kita sendiri. Bukan hal mudah memang, dibutuhkan waktu dan pengetahuan lebih dalam tentang budaya kita, tapi pasti bisa dilakukan bersama - sama. :)
Simplight.NET - Your Fashion Destination
After Midnite Bag - Your Lifestyle Bag
A Human Wannabe - My MP Account
Salam kenal :D
http://winna-efendi.blogspot.com (my official blog)
http://kenangan-abu-abu.blogspot.com (my first novel)
http://littleblackink.multiply.com (my MP account)
Koleksinya cantik - cantik banget! Aku suka!
Ngomong - ngomong Andy Saleh itu siapa ya? Kok kayaknya seru tapi belum pernah denger namanya.
Fasity, review pls!